Monday, December 26, 2011

Wakil Rakyat ( Dari Rakyat Dan Untuk Rakyat? )

"wahai bapak presiden.. dengarkah anda jeritan kami yang diintimidasi?dengarkah anda suara kami yang ditindas? melihat kah anda saat kami tersiksa atau bapak presiden sengaja berpura-pura tidak melihat semua tindakan keji terhadap kami? sepertinya yang bapak perdulikan hanyalah harta dan kekuasaan bukan? anda lupa anda bisa diatas karena siapa? ingat pak, karena kami bapak bisa diatas sana.. karena kami percaya kepada bapak. kami pikir anda bukan lah politikus-politikus busuk seperti diluar sana tapi ternnyata.. tidak jauh berbeda. bahkan bapak lebih keji karena tidak memiliki moral. mau sampai kapan kami dijadikan sasaran? kami ini seharusnya menerima apa yang menjadi hak kami sebagai warga negara indonesia, apa itu hak kami perhatikan baik-bak wahai bapak presiden dan para wakil rakyat yang terhormat, kami berhak atas RASA AMAN, KEMAKMURAN, KESEJAHTERAAN, dan KEADILAN bukan PENINDASAN, PERAMPASAN HAK DAN INTIMIDASI"

*sebuah surat dari seseorang ibu yg menjadi korban keberingasan seorang aparat kepolisian

Dinamika di negeri ini semakin hari semakin ruwet, bagaimana tidak? dimana-mana terjadi aksi protes, dimana-mana terjadi benturan antara rakyat dan pemerintah. apa ini yang kita inginkan? inikah yang diagendakan oleh pemerintah? apakah seperti ini yang namanya perwakilan dari rakyat? saya rasa mereka yang ada dikursi panas sudah lupa janji-janji mereka terhadap kita. ya.. memang janji hanyalah sebatas janji, kumpulan kata manis yang mampu menghipnotis kita berkali-kali dalam jangka waktu yang juga tidak singkat. pantaskah kita menamakan diri kita para kumpulan orang bodoh yang selalu jatuh pada janji manis mereka?silahkan renungkan sendiri.

kemudian lihatlah sekarang, para wakil rakyat yang harusnya bekerja memikirkan nasib rakyat banyak dan juga nasib negara ini, sekarang mereka hanya bisa saling menuding, saling menjatuhkan demi membela 'nama baik' masing-masing partai dan yang lebih parah adalah mereka hanya berfikir keras untuk bagaimana agar kantong mereka semua terisi penuh dengan pundi-pundi yang harusnya diberikan kepada yang berhak. mereka pun berlomba-lomba tidak hanya untuk memperkaya diri mereka sendiri tetapi partai dimana mereka diusung pun diperkaya. rakyat dan para pejuang keadilan pun tidak bisa bergerak, knp? karena para penguasa menggunakan kekuasaan mereka untuk menutup ruang gerak  para pejuang-pejuang minoritas ini. mereka mengerahkan 'pasukan' negara untuk melawan mereka yang berkicau keras kepada pemerintah dengan topeng 'sesuai prosedur'. para penguasa pun melakukan banyak sekali manuver yang jenius untuk membuat titik fokus kami terpecah. istilah 'pengalihan isu' pun santer kita dengar di era SiBeYe ini, bagaimana tidak? setiap para tikus berdasi terjerat tindak pidana ada saja masalah baru yang timbul dan lagi-lagi itu menumbalkan rakyat.

bayangkan, tidak hanya sekali kasus-kasus pelanggaran HAM muncul di negara ini, semua menumbalkan rakyat, dan lebih tepatnya semua itu dilakukan oleh APARATUR NEGARA dengan ALASAN 'SESUAI PROSEDUR'. ingatkah kalian kasus #TragediTRISAKTI #TragediSEMANGGI yang terbukti terjadi pelanggaran HAM berat didalamnya namun tidak pernah selesai sampai sekarang? lalu ingatkah peristiwa berdarah yang terjadi di negara ini seperti #Freeport #Papua #Mesuji dan #Bima? saya tidak mengatakan bahwa semua ini kesalahan mutlak dari kesewenangan aparat yang bertindak keji tetapi lihatlah ini dari sisi aturan dan undang-undang. apakah benar bahwa dalam menindak massa yang dikategorikan 'melawan/menyerang' langsung ditembak mati? bukankah bila sesuai undang-undang dan aturan para aparat itu dapat menindak dengan cara MELUMPUHKAN? perlukah kita artikan satu persatu arti dari kata MELUMPUHKAN dan MEMBUNUH?  dan yang paling parah adalah kenapa sekarang aparat lebih dikenal sebagai 'pasukan bayaran' ? kalau memang benar begitu lantas untuk apa kita membayar pajak? kasarnya menurut saya, seragam mereka itu juga ada dari hasil pajak kita ya tapi kok dipakai untuk melawan rakyat, sepatu lapangan mereka yang dari pajak kita pun ya kok dipakai untuk menendang bahkan menginjak kami para rakyat? walau terkadang para aparat tersebut diadili dan divonis pun kami tidak merasa puas karena adanya kata-kata ini : "jeruk ya ga mungkin makan jeruk lah, hanya sebatas formalitas saja semua prosedur penghakiman terhadap aparat naka", bukankah ini gila? dan yang lebih parah adalah ketika saya mendengar kalimat dari seorang aparat POLISI yang dilaporkan ke tempat dia bertugas karena mendorong seorang nenek sampai jatuh kedalam saluran got, aparat itu berkata : "ya sudah, laporkan saja toh saya ini polisi.. sekarang masuk (bui) paling juga besok sudah keluar". inikah mental aparat kita sekarang?mental kesewenangan karena seragam yang mereka kenakan. entah bagaimana lagi kita harus 'melawan' para penguasa dan pasukannya ini tapi yang jelas kita harus bangkit melawan! tapi kita bisa apa? kita seperti para pemimpi yang berharap adanya tangan Tuhan turun langsung menghakimi mereka. sungguh ironis..

Tunggu.. pemimpi kah kita?inginkah kita hanya sekedar bermimpi? TIDAK! selama kita memiliki SEMANGAT untuk merubah keadaan bangsa ini maka percayalah bahwa kita bisa membuat semua menjadi lebih baik apapun resikonya! walau darah harus tertumpah, tapi itulah harga yang sepadan. setidaknya kita tidak hanya diam atau hanya bisa berkomentar layaknya komentator bola. lakukanlah sesuatu, walau hanya hal kecil tetapi itu bentuk perjuangan kita melawan rezim yang kacau balau ini. mulailah dari diri sendiri lalu mari kita bersama bersatu berjuang untuk melakukan perubahan pada bangsa dan negara yang dapat dikatakan mulai menuju kehancuran ini.

"..berhentilah untuk menyesal di akhir, lakukan semua yang terbaik tetapi berhentilah berfikir bahwa diri kita adalah selalu yang terbaik.."

Salam Perjuangan! 

No comments:

Post a Comment

Post a Comment